Posts

Sunset di Pangandaran

Image
“Bumi menyimpan banyak keindahan. Tapi mengapa manusia yang fitrahnya suka dengan keindahan enggan menjaganya?” Pertanyaan itulah yang mengganjal di benak Fendi. Ia ingin menelisik tentang faktor apa yang menyebabkan masyarakat sekitar, khususnya daerah pesisir selalu mengabaikan keasrian ekosistem laut. Terlebih setelah ia terpilih menjadi salah satu duta di antara 20 duta kelautan. Ia diberi amanat untuk mempromosikan kepada masyarakat akan pentingnya menjaga ekosistem laut. Ia seorang anak pesisir. Tubuh tinggi dan kulit berwarna redupnya sudah dikenal oleh deburan ombak sebagai peselancar ulung. Ia sangat mencintai alam bahari. Tak heran jika hobinya adalah diving, snorkling dan fishing . Namun di balik itu ia juga ramah akan lingkungan dan selalu bersahabat dengan alam sekitar.              “Pesawahan sangatlah indah dan berjasa bagi sektor sandang pangan Indonesia. Tapi mengapa banyak lahan yang dikonversi men...

{BUKAN} Pahlawan Kesiangan

Image
Seorang bapak tua bertopi hitam mengedarkan pandangannya ke sekeliling pemberhentian bus dan angkot. Tatapannya lekat pada setiap pintu, berharap penumpang mengarah ke sebuah becak yang terparkir di pangkalan. Berkali-kali ia mengibaskan topinya dan mengelap keringat di dahinya dengan handuk kecil. Terik mentari menyorotinya hingga dahaga mudah sekali ia rasakan. Roda becak hari ini tidak mengayuh lancar, sepi penumpang. Hanya beberapa orang berumur tua yang menggunakan jasa kendaraan ramah lingkungan ini. Tak lama seorang ibu dengan sejinjing keranjang belanjaan menghampirinya. Tono langsung memutar haluan menuju arah yang dituju. Di toko depan sekolah menengah atas, ibu itu meminta becak berhenti dan membayar sejumlah uang yang tak dilihat nominalnya oleh Tono. Hanya senyum yang terbalaskan untuk setiap penumpang. Di saat yang bersamaan, anak-anak SMA sudah bubar dari sekolah. Tono melihat Rantri, anaknya yang masih kelas sebelas tengah berjalan di trotoar. Rantri menangkap ta...

Bahasa Rindu (sebuah cerpen karya Fadlan S)

Image
Di serambi masjid lantai dua, Hari biasa memandang gugusan bintang, menghabiskan waktu hanya untuk berkontemplasi. Ketika santri lain tertidur, matanya terbuka memandangi wajah malam. Sabit berdiri gagah. Dingin memeluk sepertiga malam. Sorban putihnya terkalung di lehernya untuk menepis dingin yang menusuk kulitnya. Kopiah songkok menutupi rambunya. Tatapannya terpaut pada satu bintang. “Wahai Tuhan pencipta bintang yang tak terkalahkan gemerlapnya, apakah pondok ini benar mengantarkanku menuju jalan-Mu? Sudah sekian purnama aku menjadi anggota pondok namun belum menenangkan rasaku.” Hari mengalihkan pandangannya menuju sabit yang gagah. “Wahai Tuhan pencipta gagahnya sabit, sampaikan salamku untuk ayah ibuku.” Tetesan sebening kristal menetes dari matanya. Hari merasa terpenjara dalam sebuah pondok yang tak dikehendakinya. Ayah dan ibunya seolah menelantarkan Hari dalam kehidupan sengsara. Ia tak sebebas dulu di kampungnya. Peraturan ketat membuatnya sulit bergerak. Ia...

Berhati makkah

Image
“Kamu serius mau kuliah ke Jerman?”             “Serius.”             “Gimana dengan iman yang terpatri di hatimu? Masih bersikeras mau ke Jerman? Mau dibawa ke mana almamater pondokmu?” Ia menundukan kepala.             Zaki menarik nafas. Debur air sungai Nil riuh ditiup angin yang cukup kencang. Di tengah sibuknya Kota Kairo, Zaki dan Rendi terduduk di maqha [1] yang menghadap ke muka sungai terpanjang di dunia itu.             “Insya Allah saya siap, Ren.” jawabnya tenang.             Rendi kecewa. Bukan jawaban itu yang diharapkan.             “Tapi kan sayang gelar Lc yang nyantol di namamu. Sekian tahun kamu menimba ilmu agama dan kamu ...